Karia HERI GUSMAN.
Suatu malam , tepatnya pada Hari Selasa ,19 Mei 2026 , layar ponsel milik HE ( Samaran) menyala menampilkan panggilan dari sang kekasih pujaan hati, (Bunga) . Tanpa ada angin maupun badai , obrolan santai berubah seketika menjadi mimpi buruk saat kalimat MUNDUR terucap. Hubungan yang selama ini terjalin baik-baik saja redup, kandas seketika dalam hitungan detik hanya melalui dinginnya getaran di ujung gagang telfon Seluler.
Malam semakin larut , di salah satu sudut Kelurahan Kota Padang Panjang . Hujan gerimis mulai reda , menyisakan udara dingin yang menusuk tulang . Di kamar sebuah rumah yang sangat sederhana, HE duduk di kasur tempat tidurnya sambil menatap layar ponselnya yang menyala. Nama "Bunga" tertulis di layar ponselnya. Kekasih hati yang selalu memberikan perhatian kepadanya untuk melewati hari-hari selama dua tahun terakhir.
Dua tahun (2) bukanlah waktu yang singkat. Selama itu pula, hubungan mereka berjalan mulus penuh kasih laksana air mengalir. Tidak pernah ada pertengkaran apalagi bicara kasar , semuanya berlangsung dengan penuh kasih. Perbedaan pendapat selalu bisa diselesaikan dengan senyum dan kata sayang . Sore kemaren pun, mereka masih barengan berdua menikmati indahnya pemandangan di sudut Panorama Kota Bukittinggi , mereka masih berpegangan penuh mesra berjalan di atas trotoar.
Dengan perasaan tanpa curiga sedikitpun , BUNGA menggeser ikon hijau dilayar selulernya.
"Halo sayang , sahut HE? tumben nelfon malam-malam apa masih belum tidur ?"sapanya pada Bunga .
Hening , Tidak ada jawaban langsung di seberang sana . Yang terdengar hanyalah suara tarikan NAFAS panjang yang terasa berat . Jantung Bunga mulai berdebar sedikit lebih kencang. Firasat buruk tiba-tiba menyelinap di benaknya.
"Bunga...." Suara HE terdengar serak penuh keraguan.
"Iya , HE. Kamu kenapa? Tumben suaramu begitu terdengar sesak,"tanya Bunga , mencoba menjaga suaranya tetap tenang meski telapak tangannya mulai berkeringat dingin.
"Maafkan aku...., meskipun ini terasa berat , maafkan aku , aku Mundur , ini bukan salahmu , aku sudah tak tahan lagi menahan setelah empat(4) hari berdiam diri di kamar , Maafkan Aku bg , Aku sudah tak kuat lagi menahan kuatnya goncangan badai menghantam, aku tak sanggup lagi, demi jangan ada yang tersakiti , sebaiknya kita akhiri saja hubungan kita ini sampai disini"kata Bunga. Aku tau , ini sangat berat untuk di sampaikan secara tiba-tiba , tapi maafkan aku yaa, "kata Bunga sedih.
Dunia seakan berhenti berputar. Kalimat itu meluncur begitu saja, memecah keheningan malam dan menghancurkan semua kenangan manis yang telah dirajut . Tidak ada peringatan , tidak ada pertengkaran sebagai pemicu , dan tidak ada tanda-tanda kebosanan. Semua terasa begitu aneh tapi nyata, namun bagaikan mimpi buruk.
"Apa maksudmu tanya HE ?" . Suara Bunga agak serak . Tenggorokan terasa kering. "Kita baik- baik ajakan? . Tadi sore kamu masih bilang sayang padaku. Apa salahku?".
"Tidak ada yang salah denganmu jawab Bunga . Kamu perempuan yang sempurna. Tapi ....aku sudah memikirkan ini matang-matang. Ada hal yang sulit untuk disampaikan. Tolong pahami , Aku Mundur , Maafkan Aku bg , nanti tanda kenangan yang pernah ku terima akan ku kembali kepadamu dengan utuh "sambung Bunga.
Air matanya menetes membasahi pipi . Tubuhnya mendadak seakan lemas . Ponsel di genggamannya terasa begitu berat. Di luar jendela , langit waktu malam di Kota PadangPanjang seolah - olah ikut menangis.
"HE , jangan becanda ! Hubungan kita bukan mainan. Kita sudah sejauh itu membinanya . Tolong, jangan akhiri semua ini hanya lewat gagang telepon seluler". Bunga memohon , suaranya serak-serak putus menahan Isak tangis kesedihan.
"Maafkan aku bg , ini jalan yang terbaik untuk kita berdua. Anggap saja kita tidak berjodoh , sekali lagi, Maafkan Aku bg, kita tidak berjodoh saat ini, Selamat malam",kata Bunga mengakhiri bicaranya.
Sambungan telepon terputus. Layar ponsel perlahan meredup , menyisakan pantulan wajah Bunga yang sembab dan hancur dibalik layar telepon yang sudah gelap. Benda tipis itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke atas kasur.
Tiada Angin Tiada Hujan dan tiada pertengkaran yang mendahului. Hubungan asmara yang telah terjalin dengan penuh kasih sayang kini resmi kandas tak berbekas . Semua sirna begitu saja, ditelan keheningan malam melalui dinginnya gagang Seluler. (Heri)